Selasa, 13 Maret 2012

BAHASA INGGRIS 2

1.  SIMPLE PRESENT TENSE
Digunakan untuk mengungkapkan kegiatan atau kebiasaan sehari-hari atas pernyataan umum yang didasarkan pada kenyataan.
Rumus:
S + V (S/ES) + O
Contoh 10 kalimat yang menggunakan S. Present Tense:
a.       Mother forbids jono to play football.
b.      He smells something.
c.       He casts shoes.
d.      Mother bides cake to jono
e.      They are crow to team
f.        She hews the cake.
g.       Rina quits the home.
h.      The boy spills water.
i.         They betake camp.
j.        Father chides to the children.
Dibawah ini adalah contoh article yang menggunakan S. Present Tense:
Elizabeth’s Routine
Elizabeth lives in a small apartement not far from her office. She works at the information office at the city hall from Monday to Friday. She start working at 8 a. m. and finishes at 4 p. m. She also works as a tourist  guide for some extra money on the weekends. She likes meeting people from different countries. She has a lot of work in the office. She answers a lot of different questions about places and locations. Tourists always have questions about the best way to get to some places of interest. They want to know about museums, movie theaters, night-clubs, shopping centers and other recreation places. Sometimes they ask her where they can cash traveler’s checks or where they can change their money. She enjoys working very much.

2.  SIMPLE PAST TENSE
Digunakan untuk mengungkapkan kegiatan yang akan dimulai dan akan berakhir di masa lalu. Lebih dijelaskan dengan kata yesterday, … ago, last…., in 1990.
Rumus:
S + V2 + O
Contoh kalimat yang menggunakan S. Past Tense :
a.       I wrote a letter
b.      Jono drew field yesterday.
c.       She relaid the event one years ago.
d.      I tried to pass the test yesterday.
e.      She ate meat.
f.        I cooked fried rice for him last night.
g.       They studied English two days ago.
h.      He played football yesterday.
i.         She was late because she had an accident.
j.        I met him yesterday.
Di bawah ini adalah contoh article yang menggunakan S. Past Tense:
Princess Diana
Princess Diana was born on july 1, 1961, at Park House on the royal estate of Sandringham in Norfolk, England. She had two older sisters, Sarah and Jane, and a younger brother, Charles. She attended various boarding schools during her early years. Her favorite subject was English history. At school she studied ballet and tap dancing, and she also won swimming contests. When she was sixteen,she went to school in Switzerland. She studied French and learned to ski. When she finished school, she lived in London with three of her girlfriends. The two things she enjoyed most were dancing children, so she became a teacher at the young kindergarten. Her life was quite normal before she became a princess. She took the bus to work, rode a bicycle, drove her own car, and went shopping. Then when she became engaged to Prince Charles, her life changed completely.
On july 29, 1981, Princess Diana married Prince Charles at St. Paul’s Cathedral. There were two thousand seven hundred guests at the wedding, and the ceremony was on television all over the world. On the honeymoon, they sailed the medierranean sea on the royal yacht Britania.
After they returned from their honeymoon, she began her lifes as the wife of the future king of England. She visited a lot of schools and hospitals, traveled with her husband, and attended many ceremonies. They enjoyed bicycling, swimming, and skiing. In the evening, they attended the ballet or the opera. In 1982, their son William was born, and Harry was born in 1984. She enjoyed spending time with the children. She was also very busy with her royal duties.
After 15 years of marriage with Prince Charles, Princess Diana ended in a divorce in 1996. People were surprised to hear the sad news. People all over the world even more surprised to hear the news on her death in a car crash in paris on August 31, 1997.
               
                SUMBER ARTICLE: BUKU INTERLINK

Senin, 16 Januari 2012

Konflik antara suku Dayak dan Madura


Primodial suku adalah dimana dalam tata hidup suku tersebut berorientasi pada dirinya sendiri.
Ada banyak versi yang menyebutkan tentang konflik yang terjadi antara suku dayak dan Madura, yaitu:
1.      Hasil penelitian menyebutkan bahwa konflik-konflik kekerasan yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dilandasi oleh faktor faktor cultural.Yohanes Bahari yang melakukan penelitian juga menyebutkan bahwa konflik kekerasan antara Suku Dayak dan Suku Madura di Kalimantan Barat selama ini memang tidak terlepas dari adanya tradisi kekerasan dalam Suku Dayak, namun sebenarnya bukan tradisi ini yang menjadi penyebab utama konflik melainkan lebih sebagai akibat dari adanya pemanfaatan oleh pihak-pihak lain yang menginginkan kekerasan terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, oleh mereka sendiri kekerasan tidak pernah dikaitkan dengan isu-isu keagamaan.

2.      Peristiwa lama yang mungkin penyebab terjadinya konflik sampit ini adalah sebagai berikut:
Ø  Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat (Entah benar entah tidak pelakunya orang Madura).
Ø  Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.
Ø  Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.
Ø  Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.
Ø  Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap orang Dayak adalah dihukum berat.
Ø  Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang jualan sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari 30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur. Si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian saja.
Ø  Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum.
Ø  Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan. Ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum.
Ø  Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura karena masalah sengketa tanah. Dua orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua. Sedangkan pembunuh lolos, malahan orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.
Ø  Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.
Ø  Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama Iba oleh tiga orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Namun para pembacok tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah keluarga Iba dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka
membacoknya, saat istri Iba mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat.
Ø  Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum.
Ø  Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 satu orang suku Dayak di bunuh oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.
Ø  Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi katanya sudah lari ke Pulau Madura. Proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya belum mampu menyelesaikannya (tidak tuntas).
Ø  Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.
Ø  Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Kelanjutan peristiwa kerusuhan tersebut (25 Februari 2001) adalah terjadinya peristiwa Sampit yang mencekam.

3.      Dalam pandangan Soemar-djan, bibit konflik antara suku Dayak dengan Madura di Kalteng berada dalam hubungan antar kedua etnik. Di Kalbar dan Kalteng kedua suku itu hidup berdamping-an di suatu tempat atau lokasi dan mereka bisa melakukan interaksi. Dalam hubungan antara suku Da-yak dengan suku-suku pendatang selain suku Madura tidak ada masalah sosial atau ekonomi. Tetapi masalah yang bertentangan itu ada dalam hubungan antara suku Da-yak dengan suku Madura.
Suku Dayak, memiliki ciri-ciri kebudayaan primordial. Dalam tata hidupnya suku itu berorientasi pada dirinya sendiri (inward oriented). Mereka percaya bahwa di dalam lingkungannya yang banyak hutan dan rawa yang menyulitkan hubungan dengan dunia di luarnya ada dua macam masyarakat, yaitu masyarakat manusia hidup dan masyarakat roh-roh manusia yang sudah meninggal. Kedua masyara-kat itu saling berhubungan dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan itu dilakukan menurut adat yang kuat dan hidup, lagi pula meng-galang kesetiaan pada masyarakat hidup dan masyarakat roh yang tidak boleh diganggu. Dalam rangka kebudayaan, kepercayaan, dan adat itu suku Dayak mempunyai  sikap ramah-tamah, penuh toleransi, dan tenggang rasa dalam hubungannya sesama manusia. Tetapi kalau pihak lain yang melanggar adat, dan dengan sendirinya merusak hu-bungan dengan masyarakat roh-roh leluhur mereka, maka mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan mandaunya dan memotong kepala lawannya sebagai bukti kepada roh-roh bahwa mereka membela kehor-matan roh-roh itu. Hal serupa juga diungkapkan dalam penelitian Rus-likan (1999), di mana masyarakat Dayak sangat menghargai tradisi nenek moyang serta roh-roh lelu-hur.
Sebaliknya, ciri-ciri suku Ma-dura memiliki orientasi kebudayaan keluar (out-ward oriented). Karena daerah asalnya, pulau Madura, kering dan gersang maka kebudaya-annya mengajarkan ketekunan dan keberanian untuk bertahan hidup. Masyarakat Madura menganggap bahwa lahan hidup mereka itu tidak terbatas pada pulau Madura saja, akan tetapi daerah-daerah di seberang lautan pun mereka anggap pantas dijadikan sumber penghi-dupan. Mereka yang merantau sebagian karena terpaksa sebab sumber penghidupannya yang be-nar-benar sempit, sedang sebagian lainnya adalah yang berwatak dina-mis, mandiri, serta berani meluas-kan lingkungan hidupnya sampai di seberang lautan. Orang-orang Ma-dura yang berwatak demikian itulah yang berlayar sampai ke Kalbar serta Kalteng dan membentuk masyarakat pendatang (Soemardjan , 2001).
Jika dihubungkan konflik yang terjadi antara suku dayak dengan suku Madura terhadap filosofi yang ada di Indonesia atau pancasila sangat bertentangan. Di dalam pancasila khususnya sila ke-4 yaitu “KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT DAN KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN”. Dalam sila ini dijelaskan bahwa kita sebagai rakyat Indonesia  harus menyelesaikan masalah dengan melakukan musyawarah agar menemukan titik tengah dari masalah tersebut. Bukan hanya itu kita sebagai masyarakat Indonesia harus mengingat “BHINEKA TUNGGAL IKA” yaitu berbeda-beda tetapi satu jua yang merupakan lambing garuda pancasila. Dengan berdasarkan pancasila kita dapat menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa adanya kekerasan.
           



Selasa, 03 Januari 2012

STRATEGI HARGA

A.PENGERTIAN HARGA
Harga adalah nilai pertukaran atas manfaat produk dan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba peusahaaan.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT HARGA
Ada 2 faktor yang mempengaruhi tingkat harga, yaitu:
1.     Faktor internal
Meliputi:
-          Tujuan pemasaran yang berupa biaya, penguasaan pasar, dan usaha
-          Strategi marketing mix yaitu aspek harga dan non harga
-          Organisasi yang meliputi struktur, skala dan tipe
2.     Faktor Eksternal
Meliputi;
-          Elasitisitas permintaan dan kondisi persaingan pasar
-          Harga pesaing dan reaksi pesaing terhadap peerubahan harga
-          Lingkungan eksternal yang lain, lingkungan mikro (pemasok, penyalur, asosiasi dan masyarakat), maupun lingkungan makro (pemerintah, cadangan sumberdaya, keadaan sosial, dsb).
C. KEPUTUSAN TENTANG HARGA
Keputusann harga dapat dibatasi oleh permintaan, biaya dan persaingan. Tingkat harga akan bergerak berfluktuasi dalam ruang gerak persaingan mengikuti kekeuatan pesaing yang lebih besar. Akan perubahannya tetapi tidak akan sampai melebihi batas harga tertinggi dari permintaan pasar maupun tidak akanlebih rendah dari biaya yang ditanggung produsen.
D. PROSES PENETAPAN HARGA
Proses penetapan harga ini ditujukan untuk produk baru. Langkah proses penetapan harga:
1.      Memilih tujuan dan orientasi pasar
2.     Memperkirakan permintaan produk dan perilakunya
3.     Memperkirakan biaya dan perilakunya
4.     Melakukan analisis perilaku pesaing
5.     Menentukan strategi harga
6.     Menyesuaikan harga akhir
E. HARGA BERDASARKAN KEUNTUNGAN TERTENTU
Harga ditentukan menurut perhitungan biaya dan target keuntungan yang diharapkan. Besarnya keuntungan dapat merupakan presentasi dari biaya (cost-plus), harga perolehan (mark-up) atau harga jualnya. Melalui  perilaku biaya (tetap maupun variabel) dapat diperhitungkan tingkat atau volume penjualan impas (break-even point). Berdasarkan tingkat tersebut dapat ditargetkan besarnya keuntungan.

DAFTAR PUSTAKA:
BUKU UNIVERSITAS GUNADARMA

Kamis, 29 Desember 2011

PERILAKU KONSUMEN

Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan produk dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahalui dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut (Engel et al., 1990).
A.  BERBAGAI FAKTOR YANG MEMPERBAIKI KEPUTUSAN BELI
1.    Faktor Personal
Meliputi:
-          Motivasi
Adalah dorongan internal untuk melakukan tindakan sesuatu sebagai usaha pemenuhan kebutuhan (needs). Kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi manusia seperti fisik (lapar, haus, istirahat, dsb), psikis (kasih sayang, kebebasan, dsb), hasrat, perasaan. Motivasi merupakan situasi yang bersifat pribadi.
-          Persepsi
Adalah proses pemilihan, pengorganisasian, dan pengertian informasi berdasarkan pengalaman pribadi.
-          Pemahaman
Adalah proses perubahan pemikiran atau pemahaman seseorang karena adanya pengalaman-pengalaman pribadi sebelumnya. Proses pemahaman terjadi sebagai berikut:
Drives adalah stimulus internal dari diri seseorang yang berusaha mengatasi masalah karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Misalnya dorongan untuk mengatasi rasa lapar.
Cues adalah stimulus eksternal yang terekspos agar memeperoleh respons seseorang. Misalnya iklan.
Response adalah reaksi atau tanggapan seseorang atas stimulus (internal atau eksternal) yang diterimanya. Response dapat berwujud kesediaan untuk memenuhi atau menolak pemenuhan kebutuhan.
Renforcement adalah penguatan terhadap perilaku usaha pemenuhan (penolakan) kebutuhan berdasarkan pengalam yang diperolehnya. Reinforcement mempererat hubungan antara cues dan response.
-          Kepercayaan
Adalah deskripsi tingkat penerimaan pemikiran seseorang atas sesuatu obyek atau gejala.
-          Sikap
Adalah penilaian relatif seseorang atas suatu obyek atau pemikiran tertentu secaara konsisten.

2.   Faktor sosial
Adalah pengaruh-pengaruh eksernal terhadap keputusan seseorang. Faktor-faktor sosial meliputi:
-          Peran dan Status
Peran adalah kegiatan-kegiatan seseorang untuk menyatakan keberadaan atau yang diharapkan pada dirinya dalam lingkungan
Status adalah penghargaan umum masyarakat terhadap seseorang
-          Keluarga
Adalah kelompok terkecil dalam masyarakat yang meliputi orang tua dan anak-anaknya dan merupakan kelompok yan langsung dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
-          Kelompok referensi
Adalah kelompok yang langsung atau tidak langsung mempengaruhi pembentukan perilaku seseorang.
-          Kelas sosial
Adalah tingkatan dari struktur klas masyarakat byangb berjenjang dan relatif permanen dalam persamaan nilain, minat, dan perilaku.
-          Subkultur
Adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kebersamaan sistem nilai berdasarkan pengalam hidup
-          Kultur
Adalah sistem nilai, persepsi, kebutuhan dan perilaku yang dipahami oleh setiap anggota melalui keluarga atau kelompok penting lainnya.

B.  BERBAGAI MACAM STRUKTUR PEMBELI
1.       Perilaku pembelian yang kompleks
Ini terjadi apabila menuntut keterlibatan pembeli terhadap produk yang dipilih tinggi. Misalnya, adanya pertimbangan untuk melakukan pembelian mobil untuk pertama kali dan adanya tawaran produk lain .
2.      Perilaku pembelian pencarian variasi
Meskipun pembelian produk yang ditawarkan sangat tinggi dan para pembeli tersebut tidak menghiraukan maka pilihan alternatif produk hanya sebagai variasi saja. Pergantian merk terjadin bukan karena ketidakpuasan melainkan hanya untuk merasakan berbagai macam merk saja.
3.      Perilaku pembelian menekan ketidaksesuaian
Pembeli sangat memperhatikan produk yang meraka beli, tetapi karena ada perbedaan antar merk yang tidak memenuhi maka pembeli akan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang lain yang digunakan sebagai penentu pilihannya. Misalnya kondisi tempat penjualan, kemudahan dalam pembelian, dan sebagainya.
4.     Perilaku pembelian kebiasaan
Ini terjadi bukan karena pembeli setia terhadap merk, tetapi lebih banyak karena kebiasaan terhadap merk tersebut.
Secara skematis, perbedaan perilaku pembelian berdasarketerlibatan konsumen dan perbedaan merk produk tersebut adalah sebagai berikut:


C.  STRUKTUR KEPUTUSAN BELI
Menurut Swatha dan Handoko (2008;102) adalah:
Ø  Keputusan  tentang jenis produk
Untuk menenukan jenis produk yang ingin dihasilkan, perusahaan harus memusatkan perhatiannya terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga, produk yang dihasilkan mempunyai daya tarik yang maksimal.
Ø  Keputusan tentang bentuk produk
Mencakup tentang atribut-atribut yang terdapat dalam produk yang ingin dibeli.
Ø  Keputusan tentang merek
Keputusan ini sangat subyektif tergantung dari selera dan keinginan konsumen.
Ø  Keputusan tentang agen penjualnya
Perusahaan harus mampu mengetahui dimana konsumen dalam memilih agen-agen penjualan yang dipilihnya.
Ø  Keputusan tentang jumlah produk
Pembelian ini terjadi karena adanya pembelian yang melebihi satu unit. Di sini konsumen menentukan seberapa banyak produk yang akan dibeli dan perusahaan atau produsen menyediakan produk dalam jumlah yang dibutuhkan konsumen.
Ø  Keputusan tentang waktu pembelian
Keputusan ini dapat terjadi kapan saja dan dipengaruhi oleh waktu dan bagaimana konsumen memperoleh dan membelanjakan uag yang dimilikinya.
Ø  Keputusan tentang cara pembayaran
Disini konsumen dapat melakukan pembayaran secara tunai maupun cicilan. Keputusan tersebut akan mempengaruhi keputusan tentang penjual dan jumlah pembeliannya.

D.  TAHAP-TAHAP DALAM PROSES PEMBELIAN
1.    Perumusan masalah
Terjadinya kesenjangan antara kondisi nyata dan kondisi ideal dan dikuatkan oleh stimulus internal dan eksternal. Misalnya orang yang menjaga kesehatan nya dengan tidak mengkonsumsi makanan yang berkolesterol tinggi.
2.    Informasi
Merupakan pendukung dalam mengambil keputusan. Sumber informasi dapat berupa berita dari televisi atau radio, iklan yang ad dimajalah atau dijalanan.
3.    Evaluasi alternatif
Alternatif untukmembeli atau tidak membeli produk, dipengaruhi oleh pertimbangan seperti manfaat,kepentingan,dll. Namun pertimbangan itu sering bertentangan dengan biaya yang akan dikeluarkan.
4.    Pengambilan keputusan
Hasil dari evaluasi alternatif adalah penentuan keputusan untuk membeli atau tidak membeli.
5.    Perilaku tindak lanjut
Perilaku ini dapat diperoleh setelah melakukan pembelian. Apakah ,pembelian tersebut merupakn masukan yangb memperkuat atau memperlemah perilaku pembelian untuk kemudian harinya.

E.   PERILAKU PEMBELI INDUSTRIAL
Adalah kelompok organisional yang membeli produk dan jasa untuk dijual kembali atau diproses menjadi produk lain yang akan dijual untuk kepentingan organisasinya.

F.   PROSES KEPUTUSAN BELI INDUSTRIAL
1.    Penentuan kebutuhan
Penentuan kebutuhan akan suatu barang merupakan usaha identifikasi persoalan yang dihadapi (terutama oleh bagian produksi). Misalnya usulan pembelian yang menjelaskan tentang spesifikasi barang, jenis, julmlah, dan waktu yang diperlukan.
2.    Pengumpulan informasi
Informasi digunakan disaat mengambil keputusan. Informasi terbagi 2, yaitu:
-          Informasi dari dalam :informasi ini diminta dari bagian produksiyang memberikan penjelasann secara umum
-          Informasi dari dalam: biasasnya dari pemasok, konsultan. Informasi ini dikumpulkan untuk menjelaskan tentang produk, proposal barang yang ditawarkan, kkualifikasi pemasok, serta pesyaratan negosiasi yang diperlukaan.
3.    Pengambilan keputusan
Setelah informasi telah diperolh, maka akan ditarik kesimpulan. Misalnya kualifikiasi pemasok dalam hal pengamanan, kepercayaan, kemampuan, maupun keahlian ang sangat perlu dipertimbangkan. Teknik evalusi terhadap pemeriksaan fisik barang serta analisa biayadan manfaat dilakukan untuk mempertimbangkan setiap usulan penawaran. Bagian pembeli atau bagian otoritas dengan usulan bagianj produksi mempunyai wewenang dalam mengambil keputusan. Prosedur ini dilakukan untuk pelaksanaan pembelian yang tidak rutin.
4.    Pelaksaan pembelian
Proses yang dilakukan dalam keputusan pembelian adalah melakukan negosiasi kontrak dan pengiriman barang.
5.    Evaluasi pembelian
Adalah penilaian terhadap kegiatan pembelian yang telah selesai dilakukan. Hasil penilaian akan merupakan masukan terhadap rencana pembelian yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA:
BUKU UNIVERSITAS GUNADARMA