Senin, 16 Januari 2012

Konflik antara suku Dayak dan Madura


Primodial suku adalah dimana dalam tata hidup suku tersebut berorientasi pada dirinya sendiri.
Ada banyak versi yang menyebutkan tentang konflik yang terjadi antara suku dayak dan Madura, yaitu:
1.      Hasil penelitian menyebutkan bahwa konflik-konflik kekerasan yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dilandasi oleh faktor faktor cultural.Yohanes Bahari yang melakukan penelitian juga menyebutkan bahwa konflik kekerasan antara Suku Dayak dan Suku Madura di Kalimantan Barat selama ini memang tidak terlepas dari adanya tradisi kekerasan dalam Suku Dayak, namun sebenarnya bukan tradisi ini yang menjadi penyebab utama konflik melainkan lebih sebagai akibat dari adanya pemanfaatan oleh pihak-pihak lain yang menginginkan kekerasan terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, oleh mereka sendiri kekerasan tidak pernah dikaitkan dengan isu-isu keagamaan.

2.      Peristiwa lama yang mungkin penyebab terjadinya konflik sampit ini adalah sebagai berikut:
Ø  Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat (Entah benar entah tidak pelakunya orang Madura).
Ø  Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.
Ø  Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.
Ø  Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.
Ø  Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap orang Dayak adalah dihukum berat.
Ø  Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang jualan sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari 30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur. Si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian saja.
Ø  Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum.
Ø  Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan. Ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum.
Ø  Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura karena masalah sengketa tanah. Dua orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua. Sedangkan pembunuh lolos, malahan orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.
Ø  Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.
Ø  Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama Iba oleh tiga orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Namun para pembacok tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah keluarga Iba dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka
membacoknya, saat istri Iba mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat.
Ø  Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum.
Ø  Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 satu orang suku Dayak di bunuh oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.
Ø  Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi katanya sudah lari ke Pulau Madura. Proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya belum mampu menyelesaikannya (tidak tuntas).
Ø  Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.
Ø  Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Kelanjutan peristiwa kerusuhan tersebut (25 Februari 2001) adalah terjadinya peristiwa Sampit yang mencekam.

3.      Dalam pandangan Soemar-djan, bibit konflik antara suku Dayak dengan Madura di Kalteng berada dalam hubungan antar kedua etnik. Di Kalbar dan Kalteng kedua suku itu hidup berdamping-an di suatu tempat atau lokasi dan mereka bisa melakukan interaksi. Dalam hubungan antara suku Da-yak dengan suku-suku pendatang selain suku Madura tidak ada masalah sosial atau ekonomi. Tetapi masalah yang bertentangan itu ada dalam hubungan antara suku Da-yak dengan suku Madura.
Suku Dayak, memiliki ciri-ciri kebudayaan primordial. Dalam tata hidupnya suku itu berorientasi pada dirinya sendiri (inward oriented). Mereka percaya bahwa di dalam lingkungannya yang banyak hutan dan rawa yang menyulitkan hubungan dengan dunia di luarnya ada dua macam masyarakat, yaitu masyarakat manusia hidup dan masyarakat roh-roh manusia yang sudah meninggal. Kedua masyara-kat itu saling berhubungan dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan itu dilakukan menurut adat yang kuat dan hidup, lagi pula meng-galang kesetiaan pada masyarakat hidup dan masyarakat roh yang tidak boleh diganggu. Dalam rangka kebudayaan, kepercayaan, dan adat itu suku Dayak mempunyai  sikap ramah-tamah, penuh toleransi, dan tenggang rasa dalam hubungannya sesama manusia. Tetapi kalau pihak lain yang melanggar adat, dan dengan sendirinya merusak hu-bungan dengan masyarakat roh-roh leluhur mereka, maka mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan mandaunya dan memotong kepala lawannya sebagai bukti kepada roh-roh bahwa mereka membela kehor-matan roh-roh itu. Hal serupa juga diungkapkan dalam penelitian Rus-likan (1999), di mana masyarakat Dayak sangat menghargai tradisi nenek moyang serta roh-roh lelu-hur.
Sebaliknya, ciri-ciri suku Ma-dura memiliki orientasi kebudayaan keluar (out-ward oriented). Karena daerah asalnya, pulau Madura, kering dan gersang maka kebudaya-annya mengajarkan ketekunan dan keberanian untuk bertahan hidup. Masyarakat Madura menganggap bahwa lahan hidup mereka itu tidak terbatas pada pulau Madura saja, akan tetapi daerah-daerah di seberang lautan pun mereka anggap pantas dijadikan sumber penghi-dupan. Mereka yang merantau sebagian karena terpaksa sebab sumber penghidupannya yang be-nar-benar sempit, sedang sebagian lainnya adalah yang berwatak dina-mis, mandiri, serta berani meluas-kan lingkungan hidupnya sampai di seberang lautan. Orang-orang Ma-dura yang berwatak demikian itulah yang berlayar sampai ke Kalbar serta Kalteng dan membentuk masyarakat pendatang (Soemardjan , 2001).
Jika dihubungkan konflik yang terjadi antara suku dayak dengan suku Madura terhadap filosofi yang ada di Indonesia atau pancasila sangat bertentangan. Di dalam pancasila khususnya sila ke-4 yaitu “KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT DAN KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN”. Dalam sila ini dijelaskan bahwa kita sebagai rakyat Indonesia  harus menyelesaikan masalah dengan melakukan musyawarah agar menemukan titik tengah dari masalah tersebut. Bukan hanya itu kita sebagai masyarakat Indonesia harus mengingat “BHINEKA TUNGGAL IKA” yaitu berbeda-beda tetapi satu jua yang merupakan lambing garuda pancasila. Dengan berdasarkan pancasila kita dapat menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa adanya kekerasan.
           



Selasa, 03 Januari 2012

STRATEGI HARGA

A.PENGERTIAN HARGA
Harga adalah nilai pertukaran atas manfaat produk dan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba peusahaaan.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT HARGA
Ada 2 faktor yang mempengaruhi tingkat harga, yaitu:
1.     Faktor internal
Meliputi:
-          Tujuan pemasaran yang berupa biaya, penguasaan pasar, dan usaha
-          Strategi marketing mix yaitu aspek harga dan non harga
-          Organisasi yang meliputi struktur, skala dan tipe
2.     Faktor Eksternal
Meliputi;
-          Elasitisitas permintaan dan kondisi persaingan pasar
-          Harga pesaing dan reaksi pesaing terhadap peerubahan harga
-          Lingkungan eksternal yang lain, lingkungan mikro (pemasok, penyalur, asosiasi dan masyarakat), maupun lingkungan makro (pemerintah, cadangan sumberdaya, keadaan sosial, dsb).
C. KEPUTUSAN TENTANG HARGA
Keputusann harga dapat dibatasi oleh permintaan, biaya dan persaingan. Tingkat harga akan bergerak berfluktuasi dalam ruang gerak persaingan mengikuti kekeuatan pesaing yang lebih besar. Akan perubahannya tetapi tidak akan sampai melebihi batas harga tertinggi dari permintaan pasar maupun tidak akanlebih rendah dari biaya yang ditanggung produsen.
D. PROSES PENETAPAN HARGA
Proses penetapan harga ini ditujukan untuk produk baru. Langkah proses penetapan harga:
1.      Memilih tujuan dan orientasi pasar
2.     Memperkirakan permintaan produk dan perilakunya
3.     Memperkirakan biaya dan perilakunya
4.     Melakukan analisis perilaku pesaing
5.     Menentukan strategi harga
6.     Menyesuaikan harga akhir
E. HARGA BERDASARKAN KEUNTUNGAN TERTENTU
Harga ditentukan menurut perhitungan biaya dan target keuntungan yang diharapkan. Besarnya keuntungan dapat merupakan presentasi dari biaya (cost-plus), harga perolehan (mark-up) atau harga jualnya. Melalui  perilaku biaya (tetap maupun variabel) dapat diperhitungkan tingkat atau volume penjualan impas (break-even point). Berdasarkan tingkat tersebut dapat ditargetkan besarnya keuntungan.

DAFTAR PUSTAKA:
BUKU UNIVERSITAS GUNADARMA